Perhumas Jabar Hadiri Forum PR Internasional di Norwegia Terkait Berita Bohong & Provokasi

POTENSINEWS.COM.BANDUNG-Maraknya media sosial(medsos) dan cepatnya perkembangan teknologi informasi satu sisi membawa hal positif namun di sisi lain berdampak kurang baik,terutama terkait berita bohong dan provokasi.

Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Jawa Barat akan mengikuti forum public relations (PR) tingkat dunia di Norwegia dalam rangka membahas mengenai darurat penyebaran berita bohong.

Ketua Perhumas Jabar, Nurlaela Arief menilai, isu hoax merupakan tantangan yang dihadapi oleh semua negara. Oleh karena itu, Perhumas Jabar akan turut serta berkontribusi meredakan penyebaran hoax di pertemuan global tersebut.

Lebih lanjut dikatakannya,”Dunia sekarang mengkhawatirkan soal hoax. Forum di Norwegia itu menghembuskan tema terkait nilai sebuah kebenaran. Karena kita mengalami pergeseran ke era digital dan media sosial. Kita jadi bertanya-tanya, nilai kebenaran yang kita baca itu yang mana” jelasnya di Hotel Nexa, Jln. Supratman, saat membahas “To Bring Local Value Towards Global Public Relations”.

Berdasarkan survei Kementerian Komunikasi dan Informasi, ada tiga isu teratas yang kerap menjadi tema hoax di media sosial yakni politik, SARA, dan kesehatan. Humas Bio Farma ini menyebut bahwa tren di global pun membicarakan kebenaran di media sosial.

Ditambahkan Nurlaela,kita sampai susah memebedakan mana yang benar dan mana yang hoax. Nanti di Norwegia, Perhumas Jabar akan mempresentasikan kebenaran di balik hoax, termasuk isu kesehatan,jelasnya.

Menurutnya forum internasional ini dapat menjadi titik terang untuk menyelesaikan permasalahan berita bohong. Dihadiri oleh 800 delegasi dari seluruh dunia, ia optimistis persoalan hoax tidak lagi merajalela.

“Tentu kita akan membawa kesimpulan dan solusi yang bisa diterapkan dalam melawan hoax di Indonesia, terutama di Jabar,” ujarnya.

Perhumas Jabar juga ingin memberikan sumbangsih di bidang informasi melalui buku. Menurutnya, buku tersebut dibuat berdasarkan hasil riset.

“Kita dituntut secara internasional apa yang bisa kita berikan kepada bangsa. Kita ingin meningkatkan kemampuan menulis yang lebih ilmiah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” pungkasnya.(Ade)